Sunday, April 30, 2017

Introvert ?


Beberapa waktu lalu seseorang datang pada saya dan bertanya mengapa saya lebih suka berdiam diri sendirian dibanding berkumpul bersama banyak orang lainnya. Saat itu, saya sedang mewakili media tempat saya bekerja untuk mengikuti kegiatan Media Experience yang diadakan salah satu perusaan service global di Indonesia. Saya jelas tak bisa menjawab banyak, saya jawab sekenanya sambil tetap mencoba tersenyum ramah.

Peristiwa ini tiba-tiba mengganggu pikiran saya. (haha lebay yak) Karena setelah saya ingat-ingat, ini bukan pertama kalinya terjadi. Sekitar hampir dua tahun lalu, kejadian serupa juga terjadi. Saat itu, kami para karyawan baru dikumpulkan untuk mendapat tour singkat tentang kantor. Kami dikumpulkan di lantai lima yang menjadi ruang makan. Ruangan itu dikelilingi kaca. Di antara teman-teman yang saling berkenalan, saya justru memilih memandang kosong ke arah luar kaca.

Begitupula setiap hari-hari pertama saya mulai bekerja di lapangan. Setiap pos baru yang saya datangi, kejadian serupa selalu terjadi. Bahkan sempat ada yang tak suka pada sifat menyendiri saya ini dan menuding saya autis.

Pada dasarnya, saya juga tak bisa menjelaskan alasan prilaku saya ini, tapi setiap tempat dan lingkungan baru saya datangi, saya memang selalu begini. Lebih senang tak terlihat, mengamati mereka dari kejauhan. Harapannya sih bisa pendekatan sesuai dengan sifat hasil pengamatan saya. Tapi faktaya lebih sering tetap diam, karena rasa malu yang besar.

Introvert? Saya punya cukup banyak teman dan saya tak pernah merasa bermasalah dengan obrolan jika memang sudah kenal. Saya juga cukup terbuka bercerita. Tapi memang saya lebih menikmati pergi atau berdiam diri sendirian di suatu waktu. Lebih bebas berkhayal, berimajinasi, memikirkan segala hal tanpa harus ribet berinteraksi dengan orang banyak.

Dalam pekerjaan saya sebagai wartawan, saya menikmati mengejar berita bersama dengan wartawan lain. Tapi saat saya bisa bergerak sendirian tentu saya lebih menikmatinya. Bukan sekedar perkara eksklusifitas, tapi entah mengapa saya merasa lebih bebas.

Malu? Mungkin lebih cocok. Entahlah.

Tuesday, December 27, 2016

Memilih Menu

*untuk Klara

Di depan bau semerbak nasi goreng dan kopi toraja yang tercampur tembakau terbakar

Kau bercerita
tentang lara. Dan kau tertawa.

Tak takutkah ingatan itu tiba-tiba permisi,
untuk datang kembali?

Klise, semoga kau tak mengulangi kesalahan memilih menu, seperti yang aku lakukan di malam lampau.

Ps.Minggu, 2016


Puisi ini dibuat oleh seorang kawan baik yang jahil dan tukang galau di suatu malam yang random. Sebelum mempostingnya, saya sudah terlebih dulu minta izin.

Monday, January 18, 2016

Kharisma Angry Bird di Dada Bendot, Ketua Geng Motor Tongkrongan Penuh Tawa

Tubuhnya kurus namun otot-ototnya tampak menonjol diantara ragam rupa gambar yang memenuhi tangan, kaki, dada hingga lehernya. Tato bergambar Angry Bird di dada hingga tribal di sekujur lengan dan kakinyan tak lagi bisa membuatnya lantang dan berani. Ia kini hanya bisa tertunduk, bersembunyi di balik poni rambutnya yang ia biarkan memanjang. 

Bersama dengan sebelas pemuda lainnya ia berdiri di depan belasan pasang mata dan kamera yang menyorot padanya. Ardhi Okta alias Bendot, 21 tahun, pemimpin geng motor ‘Tongkrongan Penuh Tawa’ (TPT) mejadi perhatian utama juru kamera dan pewarta saat Sub Direktorat Reserse Mobil Polda Metro Jaya merilis hasil penangkapan enam kasus kejahatan di Ruang Pusat Data Kriminal Umum, Selasa 12 januari 2016.

Sekilas memang tak terdengar ada yang aneh dari nama geng motor pimpinan Bendot ini, namun sebagai pemimpin, Bendot memiliki syarat unik dalam merekrut anggotanya. Syarat itu ia sebut dengan sebutan ‘uji nyali’. “Jadi kalau yang mau masuk geng motor TPT ini diwajibkan mengikuti persyaratan uji nyali, yaitu membegal motor, bukan mencuri,” ujar Kepala Sub Direktorat Reserse Mobil Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Polisi Eko Hadi Santoso.

Sasarannya adalah anak-anak berusia di bawah umur. Berbekal tato dan kharismanya, bendot berhasil merekrut enam anak berusia 13 tahun. Selain sebagai pemimpin geng, Bendot juga berperan aktif sebagai pelaku pencurian dan juga yang menjual motor hasil curian kepada penadah. “Satu motor saya jual seharga Rp 1,5 juta,” kata Bendot saat ditanya para pewarta.

Kepada Tempo, Bendot mengaku membentuk geng motor ini hanya untuk berkumpul dan bersenang-senang saja. “Sesuai namanya, penuh tawa. Kami biasa minum-minum, nongkrong, senang-senang kumpul-kumpul saja,” ujarnya. 

Namun kesenangan yang ada dibenak Bendot jauh dari hal yang selayaknya dipikirkan pemuda seusianya. Selain merekrut anak di bawah umur untuk membegal motor, Bendot juga menjadi otak pencurian beberapa mini market di Jakarta. “Dia dan kelompoknya ini juga spesialis pencuri mini market lewat jendela samping,” ujar Eko. Tercatat ada empat mini market yang sudah menjadi korbannya dengan total kerugian sekitar seratus juta. 

Kini, bersama dengan komando petugas yang bersiap membawanya kembali ke ruang tahanan, tak ada lagi wajah penuh tawa khas geng motor yang ia pimpin. Bendot harus mempertanggung jawabkan semua perbuatannya dari balik jeruji besi. Ia dijerat dengan pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan.



(Ditulis untuk tugas kelas Ficer lanjutan Carep Tempo, diangkat dari versi straight news berikut ---> http://metro.tempo.co/read/news/2016/01/12/064735361/bos-geng-motor-tongkrongan-penuh-tawa-dibekuk-polisi )

Sunday, February 22, 2015

Di bawah langit bulan sepuluh

Bekasi, 21.02.2015,

Kutapaki lagi lembaran masa silam,
yang buram dan kelam.
Semakin kucoba benam, semakin ku tenggelam.
Dan sampailah aku pada masa yang temaram.
Bersama timbunan sesal yang deras menghempas.
Menantang bebal yang melintas lekas,
di batas bayang imanku yang lemas tandas.
Kala itu di kota rusuh,
di bawah langit bulan sepuluh.



Tuesday, January 20, 2015

Jogja Punya Cerita : Pantai #part2


    Kemarin saya sudah bercerita tentang pantai-pantai yang ada di daerah Bantul yang pernah saya datangi. Kali ini giliran pantai-pantai di kawasan Gunung Kidul. Kawasan Gunung Kidul ini juga terkenal dengan deretan pantai pasir putih yang indah. yuk mari kita mulai!
 
Pantai Sundak
Pantai ini adalah pantai pertama yang saya datangi sejak pertama saya kuliah di Jogja. Saat itu ada acara kumpul santai bersama para senior setelah kami para mahasiswa baru menjalani ospek dan makrab. Acaranya tidak resmi. Hanya saja terbuka bagi siapa saja yang ingin ikut bergabung. Sesampainya disana, saya terpana melihat deretan batu karang yang ada. Di bagian kanan, terdapat karang besar yang berbentuk seperti Goa. Selain itu ada juga rumah panggung kecil untuk beristirahat para pengunjung. Hari itu pantai sundak sedang sepi pengunjung. Kabarnya belum banyak yang tau keberadaan pantai ini (waktu itu sekitar akhir tahun 2009). Setelah saya mencari tau tentang sejarah pantai ini, pantai ini diberi nama sundak berawal dari kisah seekor asu (anjing dalam bahasa jawa) yang mengejar landak di dalam Goa karang tersebut, maka jadilah nama “sundak”.

 
Pantai Indrayanti
Pantai ini adalah pantai paling terkenal kedua setelah pantai parang teritis di Jogja (in my sotoy opinion). Letaknya di sebelah timur pantai sundak. Diantara pantai lain di kawasan Gunung Kidul, pantai ini paling berbeda. Selain menawarkan keindaham pantai pasir putih, air yang jernih dan bukit karang menjulang, pantai ini juga delengkapi dengan fasilitas restoran dan café serta deretan penginapan yang akan memanjakan para wisatawan. Menu yang disajikan di restorannya beragam. Mulai dari nasi goreng hingga berbagai pilihan hidangan laut segar. Pada malam hari, gazebo-gazebo yang ada di sepanjang bibir pantai terlihat cantik dengan diterangi kerlip lampu. Saya sudah sering sekali ke pantai ini. Ini adalah salah satu pantai rujukan saya jika ada teman atau keluarga yang datang ke jogja. Alasannya ya karena pantai ini sudah komplit dan sangat cocok untuk berkumpul dan berlibur. Pantai ini juga memiliki pemandangan yang luar biasa saat senja tiba. Sunset yang ditawarkan tak akan membuat siapa saja menyesal. Ada hal menarik juga dari sejarah penamaan pantai ini yang saya dengar, kabarnya nama asli pantai ini adalah Pantai Pulang Syawal. Namun karena di restoran dan penginapan terdapat papan bernama indrayanti yang notabene nama restorannya (atau nama pemiliknya ya?), orang-orang sudah lebih dulu mengenal pantai itu dengan nama pantai indrayanti.
Sunset Indrayanti

Pantai Indrayanti 2013

Pantai Indrayanti 2011


 








Pantai Siung


Perjalanan saya bersama teman-teman ke pantai ini hari itu terjadi tiba-tiba saja. Seorang dari kami berulang tahun dan dia sangat suka pantai kabarnya. Maka jadilah kami berangkat ke pantai siung. Tujuannya untuk melihat sunrise dari atas tebing dan pastinya bermandi air pantai. Kami berangkat siang menjelang sore hari itu. Akses menuju pantai siung memang sedikit lebih jauh. Kami tiba di pantai saat hari sudah gelap. Dengan persiapan seadanya (hanya membawa diri dan beberapa baju ganti) kami berencana bermalam disana demi melihat matahari terbit esok pagi. Untungnya fasilitas disana sudah cukup memadai. Kami menyewa beberapa lembar tikar dan tidur dipinggir pantai. Kira-kira pukul 3 pagi, kami bangun dan mulai menaiki tebing untuk melihat matahari terbit. Memang luar biasa. Pemandangan matahari terbit tampak sangat indah dari atas sana. Oiya, untuk sekedar informasi, pantai siung ini disebut juga surganya para pemanjat tebing. Disini terdapat 250 jalur panjat tebing. Sehingga pantai ini sudah dilengkapi dengan fasilitas yang akan menunjang kegiatan panjat tebing seperti Ground Camp yang ada di bagian timur pantai. Di Ground camp ini bisa dibangun tenda atau perapian. Nama siung sendiri didapat dari salah satu karang yang dipercaya memiliki bentuk menyerupai siung wanara atau gigi kera. Dahulu, ketika malam tiba banyak kera berekor panjang yang turun ke pantai. tapi kini sudah hampir tidak ada sama sekali.
Siung 2012

After Sunrise dari atas tebing




Pantai Tanpa Nama
Diantara pantai-pantai di Gunung Kidul, saya pernah ikut seorang teman yang bilang dia menemukan pantai baru hasil blusukannya. Letaknya tak jauh dari pantai indrayanti namun akses menuju sana hanya jalan tanah setapak yang hanya bisa dilewati pejalan kaki atau kendaraan roda dua (yang dipaksakan). Rupa dan bentuknya tak jauh beda dengan pantai lainnya. Pasir putih, hamparan karang dan airnya yang jernih serta bersih akan kita dapati. Yang berbeda hanya belum ada banyak orang yang datang kesana membuat kita merasa pantai ini milik kita sendiri. Kala itu saya pergi kesana sekitar awal tahun 2011. Dan saat awal tahun 2013 kami kembali kesana untuk camping, pantai itu sudah menjadi pantai wisata juga. Akses jalannya sudah bisa dilewati mobil. Kalo tidak salah namanya sekarang Pantai Trenggolek. Pengalaman camping disana juga memberikan sensasi tersendiri lho!



Sunrise

The Beach from top

Camping 2013

Camping 2013 (2)

Disepanjang kawasan Gunung Kidul masih banyak lagi pantai yang ada, seperti pantai baron, pantai ngobaran, dll. Saya juga sempat ke pantai-pantai itu, tapi hanya mampir sebentar. Sekedar untuk tau. Semuanya indah. Tuhan memang tak mungkin menciptakan sesuatu yang tak indah bukan. Besok akan saya ceritakan pantai lain yang pernah saya kunjungi selain pantai di jogja.

 
Pantai Ngobaran

Pantai Baron

Tuesday, January 13, 2015

Cerita

"Jika mencintaimu serupa membaca buku, maka melupakanmu adalah bab yang paling aku utamakan"

Karena hidup hanya serupa cerita bukan?
Cerita tentang yang meninggalkan dan yang ditinggalkan cinta. Akhirnya pada hujan aku berkisah,
kau serupa dengannya. Jelas terlihat tapi tak tergenggam. hanya bisa dimiliki sejenak, kemudian hilang dan menyisakan rindu.

Jogjakarta, 12 Mei 2014

Friday, January 9, 2015

Jogja Punya Cerita : Pantai #part 1



Setelah kemarin sempat sharing cerita tentang “Goodbye Trip” saya sama Jogja, saya berpikir untuk juga share tentang kehidupan bertualang saya selama saya kuliah di kota ini. Biar adil. Karena banyak sekali tempat yang layak untuk diceritakan keindahannya pada khalayak. Mari kita mulai dari cerita pantai.
Semua pasti setuju kalau saya bilang jogja itu kota pantai. Ada banyak sekali pantai yang bisa dinikmati. Dari mulai pantai berpasir hitam hingga pantai berpasir putih. Diantara sekian banyak pantai yang ada, beberapa pantai berikutlah yang sudah pernah saya datangi.
  Parang Teritis




Dalam kurun waktu hampir 5 tahun hidup sebagai mahasiswa di jogja, saya justru hanya pernah 2 kali ke pantai ini. Bukan karena tidak bagus. Tapi lebih karena sudah bosan, sejak SD setiap ke jogja pasti ke pantainya, pantai ini. Secara umum pantai ini sangat cocok untuk wisata keluarga. Ombaknya cukup bersahabat hingga batas-batas tertentu, sehingga aman untuk mandi atau bermain air. Di saat matahari mulai condong ke ufuk barat, kegiatan bermain air atau berenang sudah tidak diperbolehkan biasanya. Tapi tenang saja, kita masih bisa having fun. Menikmati panorama sunset yang indah bisa dilakukan sambil bermain ATV juga lho bagi yang berjiwa petualang. Selain itu, di pantai ini juga tersedia andong/bendi atau kuda yang bisa disewa untuk berkeliling pantai. Gambaran sempurna untuk tempat wisata keluarga deh pokoknya.

   Pantai Depok


Berbeda dengan pantai parang teritis, pantai ini sering saya kunjungi. Biasanya pada malam hari. Hanya untuk menikmati suara ombak, bintang-bintang dan angin pantai. Biasanya habis itu bisa dapat banyak ide untuk banyak hal. Letaknya tak jauh dari pantai parang teritis. Pada siang hari pantai depok ini ramai dikunjungi mereka yang ingin menikmati hidangan ikan segar atau hidangan laut lainnya. Pantai ini seperti sudah dirancang khusus sebagai pusat wisata kuliner. Banyaknya restoran yang berdiri sepanjang pesisir pantai ini menjadi ciri khasnya. Nah, tak jauh dari pantai depok ini kita bisa menikmati panorama gumuk pasir satu-satunya di Asia Tenggara (seperti yang ada di salah satu vid klip Agnes Monica itu lho!).

   Pantai Parangkusumo
Masih satu jalur dengan dua pantai pasir hitam sebelumnya, pantai parangkusumo diyakini sebagai pintu gerbang Istana Laut Selatan. Saya hanya sekali waktu berkunjung ke pantai ini. Di pantai ini kita bisa merasakan sensai spiritual yang cukup kuat. Salah satu yang menarik adalah adanya batu cinta. Batu cinta ini dipercaya sebagai tempat bertemunya panembahan senopati dengan Ratu Kidul. Percaya ga percaya, saya percaya dengan cerita tentang pantai selatan.

Selain 3 pantai diatas, saya pernah sekali waktu blusukan (masih) di daerah bantul dan menemukan pantai nelayan. Karena hari itu sudah gelap saya hanya bisa menikmati kombinasi suara ombak pantai dan bintang yang ramai di langitnya yang indah. Tapi saya yakin suasana pantai ini tak kalah dengan pantai parang teritis, depok dan parangkusumo jika dinikmati pada hari terang. Disanalah sajak rindu saya tercipta.