Posts

Irsyan dan Gadget Anti Mainstream

Image
Usianya yang masih belasan tak lantas membuatnya sama dengan remaja-remaja lainnya. Irsyan, 19 tahun mengaku tak pernah tertarik dengan telepon genggam berbasis android atau ios. "Handphone mah punya, tapi dikasihkeun adik. Enggak seru," jawabnya membuat saya takjub.

Badannya tak terlalu kurus, namun juga tak gemuk. Kaos, jaket parasut yang dikaitkan di tas selempang kecil, celana jins dan sepatu lapangan menjadi bagian penampilannya. Tak ada yang aneh, tapi ada yang berbeda. Sebuah Handy Talkie (HT) menggantung di celananya.

Pertemuan saya dengan Irsyan terjadi di Garut, Jawa Barat. Saat itu saya dan dua teman (Egi dan Agung) berencana trekking di Gunung Papandayan. Ayah Egi yang menghubungi Irsyan untuk memandu kami.

Irsyan ternyata bergabung dengan Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI), yang kebetulan juga diikuti ayah Egi. Singkat cerita, ia bersedia menemani kami. Mungkin karena itu ia dibekali HT.

Irsyan termasuk supel, selama perjalanan, layaknya pemandu wisata i…

Introvert ?

Beberapa waktu lalu seseorang datang pada saya dan bertanya mengapa saya lebih suka berdiam diri sendirian dibanding berkumpul bersama banyak orang lainnya. Saat itu, saya sedang mewakili media tempat saya bekerja untuk mengikuti kegiatan Media Experience yang diadakan salah satu perusaan service global di Indonesia. Saya jelas tak bisa menjawab banyak, saya jawab sekenanya sambil tetap mencoba tersenyum ramah.

Peristiwa ini tiba-tiba mengganggu pikiran saya. (haha lebay yak) Karena setelah saya ingat-ingat, ini bukan pertama kalinya terjadi. Sekitar hampir dua tahun lalu, kejadian serupa juga terjadi. Saat itu, kami para karyawan baru dikumpulkan untuk mendapat tour singkat tentang kantor. Kami dikumpulkan di lantai lima yang menjadi ruang makan. Ruangan itu dikelilingi kaca. Di antara teman-teman yang saling berkenalan, saya justru memilih memandang kosong ke arah luar kaca.

Begitupula setiap hari-hari pertama saya mulai bekerja di lapangan. Setiap pos baru yang saya datangi, kejad…

Memilih Menu

*untuk Klara

Di depan bau semerbak nasi goreng dan kopi toraja yang tercampur tembakau terbakar

Kau bercerita
tentang lara. Dan kau tertawa.

Tak takutkah ingatan itu tiba-tiba permisi,
untuk datang kembali?

Klise, semoga kau tak mengulangi kesalahan memilih menu, seperti yang aku lakukan di malam lampau.

Ps.Minggu, 2016


Puisi ini dibuat oleh seorang kawan baik yang jahil dan tukang galau di suatu malam yang random. Sebelum mempostingnya, saya sudah terlebih dulu minta izin.

Kharisma Angry Bird di Dada Bendot, Ketua Geng Motor Tongkrongan Penuh Tawa

Tubuhnya kurus namun otot-ototnya tampak menonjol diantara ragam rupa gambar yang memenuhi tangan, kaki, dada hingga lehernya. Tato bergambar Angry Bird di dada hingga tribal di sekujur lengan dan kakinyan tak lagi bisa membuatnya lantang dan berani. Ia kini hanya bisa tertunduk, bersembunyi di balik poni rambutnya yang ia biarkan memanjang. 

Bersama dengan sebelas pemuda lainnya ia berdiri di depan belasan pasang mata dan kamera yang menyorot padanya. Ardhi Okta alias Bendot, 21 tahun, pemimpin geng motor ‘Tongkrongan Penuh Tawa’ (TPT) mejadi perhatian utama juru kamera dan pewarta saat Sub Direktorat Reserse Mobil Polda Metro Jaya merilis hasil penangkapan enam kasus kejahatan di Ruang Pusat Data Kriminal Umum, Selasa 12 januari 2016.

Sekilas memang tak terdengar ada yang aneh dari nama geng motor pimpinan Bendot ini, namun sebagai pemimpin, Bendot memiliki syarat unik dalam merekrut anggotanya. Syarat itu ia sebut dengan sebutan ‘uji nyali’. “Jadi kalau yang mau masuk geng motor TPT …

Di bawah langit bulan sepuluh

Bekasi, 21.02.2015,

Kutapaki lagi lembaran masa silam,
yang buram dan kelam.
Semakin kucoba benam, semakin ku tenggelam.
Dan sampailah aku pada masa yang temaram.
Bersama timbunan sesal yang deras menghempas.
Menantang bebal yang melintas lekas,
di batas bayang imanku yang lemas tandas.
Kala itu di kota rusuh,
di bawah langit bulan sepuluh.



Jogja Punya Cerita : Pantai #part2

Image

Cerita

"Jika mencintaimu serupa membaca buku, maka melupakanmu adalah bab yang paling aku utamakan"

Karena hidup hanya serupa cerita bukan?
Cerita tentang yang meninggalkan dan yang ditinggalkan cinta. Akhirnya pada hujan aku berkisah,
kau serupa dengannya. Jelas terlihat tapi tak tergenggam. hanya bisa dimiliki sejenak, kemudian hilang dan menyisakan rindu.

Jogjakarta, 12 Mei 2014