Kamala. Setiap matahari bergegas pergi, dia pasti ada di sana, di manapun. Perempuan dengan rambut diikat ke belakang dan senang menyembunyikan jidatnya di dalam topi itu selalu memandang ke arah tak terbatas. Menikmati senja, katanya. Meski gurat senja yang ia tunggu tak selalu sesuai harapan, ia tetap akan di sana. Wajahnya bulat dan akan semakin bulat saat dia tersenyum. Jangan harap ada riasan di wajah seperti perempuan-perempuan lain di usianya. Tapi bagiku, dia cantik dengan kepolosannya itu. Hehe Selain mengantar matahari pulang, hobi lain Kamala, --iya Kamala yang sedari tadi ku ceritakan adalah mendengarkan. Apapun, ia suka mendengar segala hal. Musik, curhat teman-temannya, serta tentu saja cerita dan leluconku yang seringkali terlalu crispy. Hihi Kalian harus tahu, setelan wajahnya saat dia mengerjakan tugas mendengarnya. Dia akan melihat tepat di mata orang yang bercerita, menaruh tangannya di dagu untuk menopang wajahnya yang bulat itu. Seriusnya akan terga...
Usianya yang masih belasan tak lantas membuatnya sama dengan remaja-remaja lainnya. Irsyan, 19 tahun mengaku tak pernah tertarik dengan telepon genggam berbasis android atau ios. "Handphone mah punya, tapi dikasihkeun adik. Enggak seru," jawabnya membuat saya takjub. Badannya tak terlalu kurus, namun juga tak gemuk. Kaos, jaket parasut yang dikaitkan di tas selempang kecil, celana jins dan sepatu lapangan menjadi bagian penampilannya. Tak ada yang aneh, tapi ada yang berbeda. Sebuah Handy Talkie (HT) menggantung di celananya. Pertemuan saya dengan Irsyan terjadi di Garut, Jawa Barat. Saat itu saya dan dua teman (Egi dan Agung) berencana trekking di Gunung Papandayan. Ayah Egi yang menghubungi Irsyan untuk memandu kami. Irsyan ternyata bergabung dengan Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI), yang kebetulan juga diikuti ayah Egi. Singkat cerita, ia bersedia menemani kami. Mungkin karena itu ia dibekali HT. Irsyan termasuk supel, selama perjalanan, layaknya pemandu wi...
Comments
Post a Comment